Industri Pertambangan
Beranda / Industri Pertambangan / Suara Warga  Kawasi Masih Lantang Walau Nyaris Hilang Dimata Publik

Suara Warga  Kawasi Masih Lantang Walau Nyaris Hilang Dimata Publik

(Catatan Lapangan Investigasi)

Oleh : Ucok S Dola (Voluntire Walhi Maluku Utara)

Sebuah Kesaksian di Malam Hari

Asap pabrik mengudara di langit Kawasi – sebuah desa yang terletak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Halmahera Selatan. Berada pada titik Koordinat 1030’34’’S 127045’E/1.5000S 127.7500E dengan luas wilayah kurang lebih 3.11 KM2, dapat dijangkau dengan Speed Boad maupun dengan Kapal dari berbagai arah. Jika dari kota Ternate, desa ini dapat dijangkau dengan Kapal selama 20 ( dua puluh ) jam dengan transit dari pelabuhan Kupal di Pulau Bacan, kemudian Pelabuhan Jojame, lalu Pelabuhan Laiwui di Pulau Obi, kemudian ke Pelabuhan Kawasi. Sering kali masyarakat memilih perjalanan alternatif, dengan Kapal dari Ternate ke Pelabuhan Kupal – Pulau Bacan, selama 8 ( delapan ) Jam kemudian dengan Spied Boad ke Kawasi dengan waktu tempu 2 – 3  jam melewati gelombang air laut yang tak menentu.

Pengaduan Bencana Banjir di Kawasi; Walhi Malut bersama Warga datangi Kantor Bupati Halsel

Fenomena desa ini sedikit menggores batin – cahaya lampu dari gedung-gedung megah Perusahaan (PT. Harita Group) menyapu pemandangan malam nan gelap. Dari atas kapal – kita seakan menyaksikan ada kota besar yang tersembunyi di sudut selatan Halmahera, namun penyaksian itu akan hilang dalam sekejap seketika kaki beranjak turun di pelabuhan. Jika musim panas, maka debu dan polusi yang akan menyambut kedatangan kita, sebaliknya jika musim hujan maka lumpur dari aktivitas perusahaan takkan berkompromi dengan alas kaki (sepatu dan sendal).

Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari slogan pembangunan negara kita saat ini – Proyek Startegi Nasional (PSN) yang diatur dalam Perpres Nomor 109 Tahun 2020 tentang pembangunan ekonomi nasional, telah menjadi momok yang menakutkan bagi kehidupan warga Desa Kawasi. Orientasi pembangungan ini dinilai cenderung mengabaikan moralitas kemanusiaan, bahkan mengesampinkan etika lingkungan.

Nestapa di Ujung Perusahaan Nikel

Pada Juni 2025 silam, banjir terjadi di Desa Kawasi sebanyak 3x dan melululantahkan perabot rumah tangga warga. Dugaan atas bencana banjir tersebut disebabkan karena jebolnya pembangunan Sendiment Pond oleh Perusahaan yang berada tepat dibelakang permukiman warga.

Anak-anak Hingga Lansia di Desa Kawasi gelar Nobar dan Diskusi film “Pesta Babi”

Dalam beberapa wawancara bersama warga, pernyataan mereka terkait penyebab bencana banjir ini tertuju sepenuhnya pada pihak perusahaan. Mereka menilai tak ada rasa pertanggungjawaban sama sekali dari pihak perusahaan, padahal bencana tersebut terjadi karena jebolnya pembangunan yang didirikan oleh perusahaan sendiri. Justru yang terjadi sebaliknya, perusahaan hanya memberikan mereka nasi kotak dan air minum kemasan (Aqua). Sementara perabot rumah yang dilenyapkan oleh banjir tidak dipertanggungjawabkan.

Akibat dari bencana banjir – warga mendapat trauma yang berkepanjangan. Ditengah lelapnya tidur sang Bos Perusahaan, ada ratusan mata yang terjaga karena takut dilahap banjir sewaktu musim hujan. Mereka tak lagi menjalani aktivitas sebagaimana masyarakat umumnya yang mengucap syukur atas turunnya hujan – melainkan selalu waspada – seakan hujan dipandang bagaikan seekor serigala lapar ditengah pekatnya malam, selalu siap menerkam siapa saja yang luput darinya.

Suara Mama-mama Kawasi di Tengah Bisingnya Mesin Pabrik (PT. Harita Group)

Tepatnya pada 14 November 2025, puluhan warga Kawasi mengadakan Aksi Demonstrasi dengan tuntutan agar Pihak Perusahaan PT. Harita Group segera memenuhi kebutuhan dasar mereka, yaitu Air Bersih dan Penerangan Lampu listrik selama 1×24 jam. Sumber mata air sungai Toduku, mata air Terjun dan mata air Danau Karo merupakan tiga sumber mata air yang ada di Desa Kawasu. Dua di antara mata air Desa Kawasi (Sungai Toduku dan Air Terjun) yang jaraknya lebih kondusif diakses oleh warga telah terindikasi. Mulanya, sungai Toduku memiliki air sangat jernih. Beberapa warga mengaku – “sebelum adanya perusahaan – sekalipun kita membuang jarum di sungai toduku, kita masih bisa menemukan jarum itu”. Ironisnya – jalur mata air sungai toduku telah ditutup oleh Perusahaan PT. Harita Nikel untuk jalur produksi. Warga kemudian beralih ke mata air Terjun, berharap mereka dapat mengkonsumsi air dengan layak.

Tepat dibulan November 2025 – kondisi air yang mengalir dari mata air terjun ke rumah warga pun sudah terindikasi. “Coba biarkan selama 10 menit air yang mengalir itu di dalam ember penampung air, setelahnya akan terlihat di dasar ember ada butir-butir halus berwarna putih!” ucap warga. Kondisi ini menggambarkan campur tangan manusia terhadap perubahan alam – dampaknya nyata menggerogoti nyawa dikemudian waktu. Jelas mengalir – tetapi bukan kehidupan melainkan ancaman. Sebuah ancaman yang mengalir kedalam rumah – takkan menjanjikan keberlangsungan peredaban yang sudah lama tumbuh. Sementara – mata air Danau Karo (sumber mata air terakhir) aksesnya sangat jauh, membutuhkan transportasi laut untuk menyeberang.

Sementara di sisi lain – penerangan lampu kerap kali menjadi masalah yang sangat signifikan bagi warga lingkar tambang. Karena keseringan padam, warga menjadi geram terhadap pihak perusahaan karena dianggap tak mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab sosialnya sebagai Industri yang bereksplorasi di wilayah permukiman warga. Sehingga – aksi demonstrasi pun digelar bersama anggota Walhi Maluku Utara pada Jumat-Sabtu (14-15/November 2025) di Jalur Produksi Nikel (PT.Harita Group).

Sikap mereka untuk menuntut hak dasarnya merupakan upaya untuk mempertahankan ruang hidupnya yang nyaris direlokasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan. Dalam Peraturan Bupati Kabupaten Halmahera Selatan No 72 Tahun 2023 tentang Relokasi Warga Kawasi ke Permukiman Baru (Eco Village) telah menghantui kehidupan warga. Meskipun aturan tersebut dibuat tanpa sosialisasi, warga menilai hal tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah terhadap pihak perusahaan ketimbang warganya sendiri.

Target Gila PT Trimegah Bangun Persada (TBP) Produksi Nikel Dunia Meroket, Ruang Hidup Masyarakat Lokal Malah Rata dengan Tanah

Tanah tidak hanya dipandang sebagai komoditas semata, melainkan ada unsur spritualitas yang membuat masyarakat selalu mempertaruhkan hidupnya demi keberlangsungan hidup. Masyarakat asli Desa Kawasi yang berjumlah 368 KK dan 1.331 jiwa, yang terdiri dari 713 perempuan dan 618 laki-laki, beragama Kristen Protestan dan Muslim. Kini menghadapi ancaman berkepanjangan, mereka luput dari segala perhatian, baik di mata Pemerintahan dari Daerah hingga Pusat, tak pernah mendatangkan solutif yang baik. Akan tetapi – hal tersebut tidak membuat warga menyerah untuk terus bersuara walaupun terus dihimpit oleh raksasa modern nan rakus.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *