(Refleksi Pembunuhan di Halmahera)
Oleh: Ucok S. Dola (Mantan Sekjend SAMURAI Malut)
“Membunuh adalah kejahatan, tetapi membunuh yang jahat adalah Perubahan”
Menyoal sistem dan hukum alam (Natural Law) dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah refleksi yang timpang sekaligus cenderung menafikan kenyataan yang sebenarnya. Dalam hidup – ada kenyataan yang mengungkap, ada kenyataan yang terungkap dan kenyataan yang belum terungkap. Hal ini juga berhubungan dengan Fenomenologi Husserlian (Intrinsik, Retensi dan Protensi) Husserl mencoba untuk menguraikan tentang waktu dan keberadaan dalam pandang subjek (orang pertama). Tetapi, ada sesuatu yang menjadi perbedaan dalam diskursus ini. Karenanya, hal seperti ini akan menjadi wacana filosofis di ruang-ruang kritis – banyak hal belum tentu bisa diukur beradasarkan satu pandangan, melainkan beberapa pandangan juga sangat penting untuk menelisik kenyataan yang sebenar-benarnya kenyataan.
Manusia rasional kebanyakan tidak memiliki keberanian untuk menidak pada sesuatu yang dianggap benar secara konvensional. Apalagi, jika yang benar itu berkaitan dengan moralitas kemanusiaan. Dalam hal ini orang-orang akan bertanya – apakah kita harus mengabaikan moralitas kemanusiaan untuk mencapai kebenaran? Pertanyaan ini akan dijawab selanjutnya. Dewasa ini – sebagai manusia rasional kita menyadari satu kenyataan yang tak bisa dipungkiri – bahwa kejahatanlah yang mendominasi kebenaran. Namun hal itu luput dari pemahaman kita karena dianggap paradox pada sisi lain – tetapi kita sendiri mengabaikan fakta kalau kejahatan hanya bisa dilawan oleh kejahatan – sebagaimana bencana alam yang terjadi akibat dari tindakan manusia yang jahat, lalu dibalas sepadan dengan apa yang dilakukannya. Untuk memahami apa itu kejahatan, tentu kita semua punya pandangan yang sama – bawah kejahatan merupakan sebuah tindakan yang merugikan orang lain (the other).
Terlepas dari itu – kenyataan yang mengungkap telah menampilkan wujudnya dihadapan kita. Kenyataan telah berbicara dengan bahasanya sendiri – ia mengikuti hukum alam. Apa yang telah kita lakukan maka itulah yang akan kita dapatkan. Siklus kehidupan sosial menentang kebenaran itu, seolah mengalamatkan ke-jahat-an adalah sesuatu yang buruk sebagaimana pandangan orang kebanyakan – alhasil menciptakan kontradiksi yang bertentangan dengan norma atau aturan yang berlaku. Di sisi lain, Kenyataan yang telah terungkap terus menerus mendorong yang mengungkap – untuk membuka kedok yang selama ini diyakini oleh manusia rasional.
Gambaran yang sederhana bisa ditemukan dalam salah satu karya Dann Borwn “The Last Simbol”, menggambarkan kejahatan dan kebenaran berdasarkan pandangan Malaikat dan Iblis. Kaum Malaikat secara umum dipercayakan sebagai kaum yang benar – sedangkan kaum Iblis adalah kaum yang jahat. Karena itu, ketika terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh kaum Malaikat terhadap Iblis akan dianggap sebagai tindakan yang benar. Pada sisi ini, tentu kita bisa memahami mana kebenaran dan mana kejahatan – namun kerap kali kita mengabaikannya karena pengaruh moralitas kemanusiaan, lalu mengklaim apa yang dilakukan oleh malaikat adalah bentuk dari kebenaran itu sendiri. Tetapi – pada waktu yang sama kita juga turut menyalahkannya. Seolah tidak konsisten baik secara pemikiran maupun tindakan sehari-hari.
Selain itu – kenyataan yang belum terungkap selalu menjadi nilai absolute untuk mempertahankan yang namanya ‘kebenaran’. Disinilah – letak moralitas kemanusiaan dipertaruhkan dalam sebuah sistem negara. Sistem yang cenderung mengekang aktivitas individu dan kelompok masyarakat untuk selalu tunduk pada kebenaran yang mengungkap dan terungkap – lalu menyembunyikan nilai absolute dari kebenaran itu sendiri. Pada tahapan ini – kebenaran yang belum terungkap seperti sebuah kegelapan yang sunyi – karena tak seorangpun berani untuk mendekatinya. Kita terlihat kaku pada hal-hal yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang berbahaya bersembunyi dibaliknya. Tak sekalipun dari kita yang berani mencoba untuk melihat apa dibalik kegelapan – bisa saja bukan bahaya yang bersembunyi melainkan sebuah kebenaran. Dan – kalaupun dari kita sadar bahwa hal tersebut yang bersembunyi adalah kebenaran – tentu saja tak berani berteriak karena dianggap itu adalah kebenaran yang berbahaya. Inilah letak kebohongan intelektual di Era Mutakhir.
- Drama Tragis di Halmahera
Beberapa waktu silam – sebuah peristiwa Na’as yang menimpa salah seorang warga di Halmahera Tengah sempat mengguncang situasi di Daerah Maluku Utara. Sebab dapat menimbulkan resistensi konflik yang besar. Tetapi – disini penulis tidak akan mengupas latar belakang atau kronologis dari kejadian itu – melainkan membaca konflik tersebut dengan pendekatan yang berbeda. Seperti yang dipaparkan diatas – kegelapan menyimpan kebenaran bukan kejahatan.
Konflik di Tanah Halmahera sedari awal selalu terjadi di setiap Daerah-daerah yang memiliki hasil bumi seperti Emas, Nikel, Batu Bara dan lain-lain. Dan – kita semua tau terutama kalangan aktivis dan peneliti maupun mahawasisa, bahwa untuk memperjuangkan kebenaran tidaklah muda – sebab kita memiliki lawan yang kuat yaitu Sistem yang terstruktur dan sistematis – meliputi hampir seluruh aspek kehidupan Bangsa dan Negara, baik sosial budaya, ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, bahkan sistem pertahanan dan keamanan negara (TNI/POLRI).
Namun – dari semua kerumitan yang menjadi lawan tentu memiliki kelemahan. Darisinilah penulis mengajak pembaca sekalian untuk merefleksikan kembali – tentang konstalasi politik dari Daerah hingga ke Pusat. Peristiwa na’as yang sudah berulangkali terjadi melahirkan banyak tanya ditengah masyarakat – rasa dilema atas kejadian itu tak bisa dibayangkan. Sebab – pelaku dibalik penyerangan (OTK) tak pernah berhasil ditangkap oleh pihak yang berwewenang. Mengorek sedikit hal itu – penulis menawarkan sebuah analogi perbandingan untuk melihat peristiwa yang belum sempat dipikirkan. ‘jika’ bukan warga yang korban atas pembunuhan, melainkan korbannya adalah elit lokal yang berkepentingan dalam segala kerusakan ekologis di halmahera, apa yang akan terjadi? Dan – bila hal itu berulangkali terjadi, apakah wajah halmahera akan seperti sekarang? Tentu tidak.
- Narasi Perbandingan
Mari kita lihat ke belakang dampak dari setiap peristiwa pembunuhan yang melibatkan warga. Halmahera Tengah dan Halmahera Timur sudah menjadi langganan pada saat Industri Pertambangan bercokol – sekitar dua belas kali terjadi pembunuhan di hutan kedua daerah tersebut sejak 1985 – 2026 dengan pelaku yang sama (OTK). Kejadian itu secara Psikologi mengganggu aktivitas warga, terutama para petani. Dibaliknya – terselubung kepentingan pembebasan lahan oleh Industri Pertambangan. Bisa dibilang – seluruh rangkaian peristiwa itu tersusun secara sistematis – sangat rapi hingga ‘takut’ dibaca – bukan ‘tidak’ dibaca oleh civil society. Alih-alih membongkar fakta, yang terjadi malah sebaliknya menumpukkan peristiwa dan menarasikan harapan pada kemanan.
Hemat penulis – jika elit yang menjadi korban selama beberapa dekade sebagaimana yang dialami warga, maka setiap kebenaran akan mulai menampakkan wujudnya perlahan-lahan, kebenaran yang dimaksud berkaitan dengan kerusakan ekologi di Halmahera. Setiap korban akan meninggalkan jejak pada kelompok yang berkepentingan – dan itu akan berdampak besar baik secara ekonomi dan kepentingan politik mereka. Tentunya – perbedaan warga dan elit ketika menjadi korban dibaliknya telah memberikan kita peringatan atas kebenaran dan kejahatan. Namun disini, penulis tidak akan terlalu dalam untuk menoleh siapa pelakunya – karena dibanyak kalangan sudah banyak mencurigai kelompok tertentu – namun memilih untuk menjadi pengamat di warung kopi.
Pada bagian ini – dari uraian singkat di atas sebetulnya tujuan penulis adalah mengajak kepada pembaca bertengkar secara pemikiran. Sejauh ini – kasus pembunuhan di Hutan Halmahera selalu nihil/zong. Pelaku tak pernah bisa diungkap – justru sebaliknya melahirkan konflik horisontal antara warga dengan warga. Padahal – masalah yang mendasar adalah korban, bukan pelaku. Dalam pengertian – mengapa selalu warga yang menjadi korban? Apakah hanya warga yang manusia dan selain warga adalah ‘iblis’? sehingga manusia takut membunuh untuk tidak menjadi iblis! Apakah demikian baru bisa disebut kebenaran yang baik? Atau hanya baik tanpa kebenaran?
Rangkaian tulisan ini ditulis secara sadar atas konflik di hutan halmahera yang diberitakan melalui media online maupun cetak – maupun diskusi-diskusi kecil. tidak bermaksud mengkalim mana yang benar – melainkan penulis berupaya membaca apa yang disebut sebagai kebenaran sebetulnya tidak memandang bahaya atau tidak, berdosa atau tidak dan lain sebagainya. Karena – kebenaran dalam pandangan penulis harus diakses dengan keberanian untuk mengutarakannya baik dalam pikiran maupun tindakan.

Komentar